Cuti Besar

Cuti Besar adalah cuti yang dapat diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang telah bekerja sekurang-kurangnya enam tahun secara terus-menerus.[1]

Ketentuan

Ketentuan cuti besar adalah sebagai berikut:[1]

  • Ketentuan umum:
    • Cuti besar lamanya tiga bulan.
    • PNS yang menjalani cuti besar tidak berhak lagi atas cuti tahunannya dalam tahun yang bersangkutan.
    • Untuk mendapatkan cuti besar, PNS yang bersangkutan mengajukan permintaan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti.
    • Cuti besar diberikan secara tertulis oleh pejabat yang berwenang memberikan cuti.
  • Ketentuan lainnya:
    • Cuti besar dapat digunakan oleh PNS yang bersangkutan untuk memenuhi kewajiban agama.
    • Cuti besar dapat ditangguhkan pelaksanaannya oleh yang berwenang untuk paling lama dua tahun, apabila kepentingan dinas mendesak.
    • Selama menjalankan cuti besar, PNS yang bersangkutan menerima penghasilan penuh.

Ketentuan Khusus di Kementerian Keuangan

Khusus di Kementerian Keuangan diberlakukan ketentuan tambahan sebagai berikut:[2]

  • Hak penghasilan:
    • Selama menjalankan cuti besar, PNS yang bersangkutan tidak berhak atas tunjangan jabatan dan tidak memperoleh TKPKN.
  • Penggunaan Cuti Besar
    • PNS perlu merencanakan penggunaan cuti besar sejak awal tahun.
    • Cuti besar dapat digunakan oleh PNS untuk:
      • memenuhi kewajiban agama;
      • persalinan anaknya yang keempat apabila PNS yang bersangkutan mempunyai hak cuti besar menjelang persalinan; atau
      • keperluan lainnya sesuai pertimbangan pejabat yang berwenang memberikan cuti.
    • PNS yang telah melaksanakan cuti tahunan dan akan mengambil cuti besar pada tahun yang bersangkutan harus mengembalikan TKPKN yang diterimanya selama melaksanakan cuti tahunan.
    • PNS yang akan/telah menggunakan cuti besar berhak atas:

Referensi

  1. [1]Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1976
  2. [2]Surat Edaran Menteri Keuangan Nomor SE-3559/MK.1/2009